54. TENTANG WASPADA
Ulama salaf telah berkata
الْمُؤْمِنُ يَطْلُبُ مَعَاذِيرَ إِخْوَانِهِ
“Seorang mu’min itu mencari udzur (alasan-alasan baik) terhadap saudaranya”
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ زَلَّاتِهِمْ
“Maafkanlah ketergelinciran orang-orang yang baik” (HR. Ibnu Hibban ).
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
وَإِيَّاكَ وَمَا يُعْتَذَرُ مِنْهُ
“Tinggalkanlah hal-hal yang membuatmu perlu meminta udzur setelahnya” (HR. Dhiya Al Maqdisi )
Hadits Riwayat Muttafaq Alaih
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ الْحَدِيث(متفق عليه)
Artinya: “Dari Abu Hurairah ia berkata telah bersabda Rasululloh.” Jauhkanlah dirikamu daripada sangka (jahat) karena sangka (jahat) itu sedusta-dusta omongan,(hati)”. (HR. Muttafaq Alaih)
Hadits Riwayat Bukhori
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَاِنَّ الظَّنَّ اَكْذَبُ الْحَدِيث ،وَلاَتَحَسَّسُوا وَلآتَجَسَّسُوْا وَلآتَحَاسَدُوا وَلآتَدَابَرُواوَلآتَبَاغَضُوا وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا (رواه البخارى)
Artinya: “Jauhilah sifat berprasangka karena sifat berprasangka itu adalahsedusta-dusta pembicaraan. Dan janganlah kamu mencari kesalahan, memata-matai,janganlah kamu berdengki-dengkian, janganlah kamu belakang-membelakangi danjanganlah kamu benci-bencian. Dan hendaklah kamu semua wahai hamba-hamba Allahbersaudara.” (HR. Bukhori).
Adapun suudzon yang diperbolehkan adalah dalam niyat waspada.
Dalam Hadits dinyatakan:
احْتَرِسُوا مِنْ النَّاسِ بِسُوءِ الظَّنِّ . رواه الطبراني
“Jagalah diri kalian dari manusia dengan kewaspadaan”. HR.Thobroni
Hadits mulia ini sangat singkat, namun memiliki makna yang mendalam. Ada dua penafsiran ulama tentang makna hadits mulia ini.
Hendaknya kita mewaspadai kejahatan manusia yang jahat dengan cara bersuudzon kepada mereka.
Janganlah kita mempercayai semua orang, sebab itu lebih selamat bagi kita.
Sebenarnya maksud hadits ini hampir serupa, bahwa kita dianjurkan untuk bersikap waspada kepada orang yang biasa berbuat jahat. Husnudzon kepada orang jahat itu adalah termasuk hal yang sering membuat penyesalan di kemudian hari.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ
Seorang mukmin tidak akan tersengat dari lubang hewan yang sama dua kali. (HR Bukhari)
Al Khathabi mengatakan makna hadits ini adalah hendaknya seorang mukmin menjadi orang yang waspada baik dalam urusan dunia atau pun agama, jangan sampai ia lalai sehingga tertipu berkali-kali oleh orang yang sama. Dalam hadits lain dikatakan:
” الْمُؤْمِن كَيِّس حَذِر
Seorang mukmin itu cerdas dan waspada. (HR Dailami)
Diceritakan dalam perang Badar, Nabi SAW menawan Abu Azzah al Jumahi. Ia memohon untuk dibebaskan karena memiliki keluarga yang ditakutkan tidak terawat jika ia mati. Maka Nabi SAW pun membebaskannya tanpa bayaran. Pada perang Uhud, Abu Azza kembali tertawan. Ia meminta dibebaskan karena alasan yang sama. Maka Nabi SAW pun menjawab:
لَا تَمْسَح عَارِضَيْك بِمَكَّة تَقُول سَخِرْت بِمُحَمَّدٍ مَرَّتَيْنِ
Jangan sampai nanti engkau mengusap janggutmu di Makkah sambil berkata, “Aku telah menipu Muhammad dua kali.”
Maka Nabi SAW pun memerintahkan agar ia dihukum mati. Ibnu Hisyam mengatakan, ketika itulah Nabi SAW mengucapkan sabdanya yang terkenal, “Seorang mukmin tidak akan tersengat dari lubang hewan yang sama dua kali.”
Ini menunjukkan bahwa husnudzon kepada seorang penipu bukanlah sikap yang tepat. Kepada orang yang demikian, hendaklah kita bersikap waspada. Husnudzon kepada orang yang tidak tepat itulah yang sering membuahkan penyesalan di kemudian hari.
Ini dikuatkan oleh kabar riwayat Imam Ibnu `Asakir dari Sayidina Ibnu Abbas ra, yaitu Hadist Marfu’:
من حسن ظنه بالناس كثرت ندامته
Man husnuzhonahu katsrotu nadamatuhu
Barang siapa yang berprasangka baik kepada seluruh manusia maka ia akan banyak merasakan penyesalan.
من بينه وبينه عداوة أو شحناء في دين أو دنيا، يخاف على نفسه، مكره، فحينئذ يلزمه سوء الظن بمكائده ومكره؛ لئلا يصادفه على غرة بمكره فيهلكه
“orang yang memiliki permusuhan dan pertarungan dengan seseorang dalam masalah agama atau masalah dunia, yang hal tersebut mengancam keselamatan jiwanya, karena makar dari musuhnya. Maka ketika itu dianjurkan berprasangka buruk terhadap tipu daya dan makar musuh. Karena jika tidak, ia akan dikejutkan dengan tipu daya musuhnya sehingga bisa binasa”
(Abu Hatim Al Busti )
`Abid Syibrimah yang berumur 200 tahun pernah ditanya, “Apa saja yang telah engkau saksikan?”
Ia menjawab, “Aku telah menemui banyak manusia , dan semua dari mereka berkata, “Manusia (yang baik) telah pergi.”
Ada pula yang mengatakan, “Tidak tersisa dari manusia kecuali seperti anjing yang menggonggong atau seperti keledai yang meringkik maka waspadailah keduanya.”
Sebagian ulama terdahulu pernah berkata, “Jika dunia ini dipenuhi hewan buas dan ular berbisa, aku tidak akan khawatir. Akan tetapi jika di dunia ini tersisa satu manusia saja, maka aku akan lebih mengkhawatirkannya.”
Dalam pepatah Arab dikatakan:
رب زائر يراوحك ويغاديك وهو ممن يكادحك ويعاديك
Betapa banyak peziarah yang datang padamu dan menghiburmu, sedangkan dia hakikatnya adalah orang yang menipumu dan memusuhimu.
Sikap waspada harus ada pada diri kita, tapi bukan berarti kita harus bersuudzon kepada semua orang. Rasulullah SAW bersabda:
إياكم وسوء الظن
Hati hati kalian daripada prasangka buruk.
Kita harus berhusnudzon kepada orang yang baik dan bersifat amanah. Sedangkan kepada orang yang jahat dan munafik hendaklah kita bersikap waspada. Demikianlah seharusnya sikap seorang muslim, ia harus cerdas dalam memahami situasi, sehingga ia tahu kapan harus berhusnudzon dan kapan harus waspada.