18. AQIDAH
Hindarilah Awhaluttauhid..!!
Ia merupakan kontaminasi bertauhid (hal-hal yg dapat menodai bahkan merusak ketauhidan seorang muslim).
Apa saja itu?
Ada empat :
Hulul, Ittihad, Tasybih dan Ta'thil.
Hulul adalah berkeyakinan bahwasanya Allah Swt telah menempati atau merasuki makhluk-Nya, sebagaimana keyakinan kristen bahwa Allah Swt. telah merasuki Siti Maryam as yg kemudian
akhirnya melahirkan anak tuhan (Isa).
Ittihad adalah berkeyakinan bahwa Allah Swt bersatu (menyatu) dg makhluk-Nya,
sebagaimana keyakinan nasrani bahwa Allah telah bersatu dgn Isa as.
Tasybih adalah berkeyakinan bahwa Allah Swt. serupa dg makhluk-Nya, yg kemudian lalu menyembah makhluk itu. Rasulullah Saw bersabda : "Al-Mushowwiruna finnar",, Sesunguhnya org2 yg meyakini di dalam hati mereka bahwa Allah Swt. dapat digambarkan dalam bentuk tertentu kemudian mereka menyembahnya, maka mereka akan dijerumuskan ke dalam api neraka. Sebagaimana org yg meyakini bahwa Tuhan menyerupai sapi kemudian
mendewakan nya, atau beri'tikad bahwa Tuhan menyerupai benda-benda luar angkasa seperti
matahari, bintang, rembulan dan lain sebagainya.
Ta'thil adalah menafikan / mengabaikan (meniadakan) fungsi asma'-Nya, dan mengatakan bahwa
Allah Swt. bekerja dg zat nya, sementara nama-nama-Nya tidak berfungsi (hanya sebatas
nama). Seakan menyerupakan Allah dg manusia,, sebab nama-nama manusia hanya sebatas nama dan tidak bekerja. Sementara nama-nama Allah tentu beda dg nama-nama manusia yg sebatas nama.
Zat Allah berbeda dgn zat kita, maka nama-nama-Nya pun tentu harus berbeda.
Bila kita samakan maka inilah yg disebut Ta'thil sekaligus Tasybih.
Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita sebagai HATI MU'MIN
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : " الْقُلُوبُ أَرْبَعَةٌ : فَقَلْبٌ أَجْرَدُ ، فِيهِ مثل السِّرَاجِ يُزْهِرُ ، فَذَلِكَ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ وَسِرَاجُهُ فِيهِ نُورُهُ ، وَقَلْبٌ أَغْلَفُ مَرْبُوطٌ عَلَى غُلافِهِ ، فَذَاكَ قَلْبُ الْكَافِرِ ، وَقَلْبٌ مَنْكُوسٌ ، وَذَلِكَ قَلْبُ الْمُنَافِقِ ، عَرَفَ ثُمَّ أَنْكَرَ ، وَقَلْبٌ مُصَفَّحٌ ، وَذَلِكَ قَلْبٌ فِي إِيمَانٍ وَنِفَاقٍ ، فَمَثَلُ الإِيمَانِ فِيهِ كَمَثَلِ الْبَقْلَةِ يَمُدُّهَا مَاءٌ طَيِّبٌ ، وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ فِيهِ كَمَثَلِ الْقُرْحَةِ ، يَمُدُّهَا الْقَيْحُ وَالدَّمُ ، فَأَيُّ الْمُدَّتَيْنِ غَلَبَتْ صَاحِبَتَهَا غَلَبَتْ عَلَيْهِ " .
dari Abu Sa’id al-Khudri , bahwa Rasulullah bersabda:
“Hati itu ada empat macam:
Pertama, qolbun ajrad (hati yang polos tak bernoda) di dalamnya seperti ada pelita yang bersinar.
Kedua, qolbun aghlaf (hati yang tertutup) yang terikat tutupnya.
Ketiga, qolbun mankuus (hati yang terbalik).
Keempat, qolbun mushfah (hati yang terlapis).
Adapun qolbun ajrad adalah hati seorang Mukmin, pelita dalam hatinya adalah cahaya,
Qolbun aghlaf adalah hati orang kafir,
Qolbun mankuus adalah hati orang munafik, yang mengetahui kemudian mengingkari.
Qolbun mushoffah adalah hati yang di dalamnya bercampur iman dan nifak, iman yang ada di dalamnya seperti tanaman yang disirami air yang segar dan nifak yang ada di dalamnya seperti bisul yang disirami darah dan nanah, mana dari dua unsur di atas yang lebih dominan, maka itulah yang akan menguasai hatinya.”
Takhrij Hadits;
- Musnad Imam Ahmad
- Mu'jam Shoghir, Imam Thobroni
- Al fawaid Al muntaqoh, Ibn Abbas Al-ikhmimi
- Hilyatul auliya, Abu Nu'aim
- Sifatun Nifaq wa Na'tu Munafiqin,Abu Nu'aim
A . AQIDAH RASULULLAH SALLALLAHU`ALAIHI WASALLAM:
Sabda Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam :
يَقُوْلُ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((لَا فِكْرَةَ فِي الرَّبِّ)). رَوَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ الْأَنْصَارِيْ.
Nabi sallallahu`alaihi wasallam bersabda: ((Tuhan tidak boleh difikirkan/digambarkan)).
Diriwayatkan oleh Abu al-Qasim al-Ansari.
أَنَّ مَعْرِفَةُ الله لَا تُطْلَبُ بِالتَّصَوُّرِ وَلَا بِالتَّوَهُّمِ لِأَنَّ حُكْمُ الْوَهْمِ يُؤَدِّيْ إِلَى الْغَلَطِ.
” Bahawasanya mengenal/mengetahui tentang Allah, tidak dituntut/disuruh dengan cara menggambarkan atau membayangkan (dalam fikiran) kerana hukum yang terhasil daripada waham [gambaran/sangkaan] membawa kepada kesalahan”.
Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam juga bersabda:
“كَـانَ اللهُ وَلَـمْ يَكُـنْ شَيْءٌ غَـيْرُهُ”.
“Allah wujud pada azali [kewujudan-Nya tidak ada permulaan] sedangkan sesuatupun masih belum wujud”. (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, al-Bayhaqi dan Ibn Jarud)
Al-Hafiz Ibn al-Hajar al-`Asqalani (W. 852 H) telah menghuraikan hadis di atas di dalam kitabnya Fath al-Bari dengan katanya :
“وَالْمُرَادُ بِكَانَ فِي الْأَوَّلِ الْأَزَلـِـيَّةُ وَفِي الثَّانِـي الْـحُدُوْثُ بَعْدَ الْعَدَمِ” اهـــ.
“Dan maksud كان)) dalam lafaz yang pertama ialah keazalian [kewujudan tanpa didahului oleh ketiadaan atau kewujudan tanpa permulaan] dan dalam lafaz (كان) kedua ialah kebaharuan selepas ketiadaan [kewujudan yang didahului oleh ketiadaan atau kewujudan yang ada permulaan]”.
Al-Hafiz Abu Bakr Ahmad Ibn al-Husayn al-Bayhaqi (W. 458 H) juga mensyarahkan hadis tersebut di dalam kitabnya al-I`tiqad ketika menjelaskan makna hadith ini dengan berkata:
“يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَـمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ لَا الْمَاءَ وَلَا الْعَرْشَ وَلَا غَيْرَهُـمَا وَكُلُّ ذَلِكَ أَغْيَارٌ” اهــــ.
“[Hadis ini] Menunjukkan bahawa Allah ta`ala sudah wujud walaupun selain-Nya belum ada, air tidak ada, `Arasy tidak ada dan selain kedua-dua benda itu dan semua itu adalah bukan Allah ta`ala.”
Rasulullah sallallahu`alaihi wasallam juga bersabda:
“اللَّهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُوْنَكَ شَيْءٌ”.
“Ya Allah! Engkau al-Awwal maka tiada suatupun sebelum-Mu, Engkau al-Akhir maka tiada suatupun selepas-Mu, Engkau al-Zahir maka tiada suatupun di atas-Mu, dan Engkau al-Batin maka tiada suatupun di bawah-Mu”. (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)
B . AQIDAH PARA SAHABAT DAN TABI`EN:
1 . Sayyiduna Abu Bakar al-Siddiq radiyallahu`anhu (W. 13 H) berkata :
“الْعَجْزُ عَنْ دَرَكِ الْإِدْرَاكِ إِدْرَاكٌ وَالْبَحْثُ عَنْ ذَاتِهِ كُفْرٌ وَإِشْرَاكُ”.
“Pengakuan bahawa pemahaman seseorang tidak mampu (lemah) untuk sampai megetahui hakikat Allah adalah keimanan, adapun mencari tahu tentang Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran”.
2. Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) berkata:
كَانَ اللهُ وَلاَ مَكَان وَهُوَ الآنَ عَلَى مَا عَليْه كَانَ
“Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, dan Dia Allah sekarang -setelah menciptakan tempat- tetap sebagaimana pada sifat-Nya yang azali; ada tanpa tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).
Beliau juga berkata:
إنّ اللهَ خَلَقَ العَرْشَ إْظهَارًا لِقُدْرَتهِ وَلَمْ يَتّخِذْهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah menciptakan ‘arsy (makhluk Allah yang paling besar bentuknya) untuk menampakan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan tempat bagi Dzat-Nya” (Diriwayatkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firaq, h. 333).
3 . Ibn `Abbas radiyallahu`anhuma telah berkata:
“تَفَكَّرُوْا فِيْ خَلْقِ اللهِ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِيْ ذَاتِ اللهِ”.
“Hendaklah kalian berfikir tentang makhluk ciptaan Allah, namun jangan kalian fikirkan tentang zat Allah”. Diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya al-Asma’ wa al-Sifat
4. Seorang tabi’in yang agung, al-Al-Imam as-Sajjad Zain al-‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain ibn ‘Ali ibn Abi Thalib (w 94 H) berkata:
أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ يَحْويْكَ مَكَانٌ
“Engkau wahai Allah yang tidak diliputi oleh tempat” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).
Juga berkata:
أنْتَ اللهُ الّذِي لاَ تُحَدُّ فَتَكُوْنَ مَحْدُوْدًا
“Engkau wahai Allah yang maha suci dari segala bentuk dan ukuran” (Diriwayatkan oleh al-Imam Murtadla az-Zabidi dalam Ithaf as-Sadah al-Muttaqin Bi Syarh Ihya’ ‘Ulumiddin, j. 4, h. 380).
5. al-Al-Imam Ja’far as-Shadiq ibn Muhammad al-Baqir ibn ibn Zainal ‘Abidin ‘Ali ibn al-Husain (w 148 H) berkata:
مَنْ زَعَمَ أنّ اللهَ فِي شَىءٍ أوْ مِنْ شَىءٍ أوْ عَلَى شَىءٍ فَقَدْ أشْرَكَ، إذْ لَوْ كَانَ عَلَى شَىءٍ لَكَانَ مَحْمُوْلاً وَلَوْ كَانَ فِي شَىءٍ لَكَانَ مَحْصُوْرًا وَلَوْ كَانَ مِنْ شَىءٍ لَكَانَ مُحْدَثًا (أىْ مَخْلُوْقًا)
“Barang siapa berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam sesuatu, atau dari sesuatu, atau di atas sesuatu maka ia adalah seorang yang musyrik. Karena jika Allah berada di atas sesuatu maka berarti Dia diangkat, dan bila berada di dalam sesuatu berarti Dia terbatas, dan bila Dia dari sesuatu maka berarti Dia baharu -makhluk-” (Diriwayatkan oleh al-Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah al-Qusyairiyyah, h. 6).
C . AQIDAH IMAM EMPAT MAZHAB
1 . al-Al-Imam al-Mujtahid Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit (w 150 H), salah seorang ulama salaf terkemuka, perintis madzhab Hanafi, berkata:
وَاللهُ تَعَالى يُرَى فِي الآخِرَة، وَيَرَاهُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَهُمْ فِي الْجَنّةِ بِأعْيُنِ رُؤُوسِهِمْ بلاَ تَشْبِيْهٍ وَلاَ كَمِّيَّةٍ وَلاَ يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ خَلْقِهِ مَسَافَة.
“Allah ta’ala di akhirat kelak akan dilihat. Orang-orang mukmin akan melihat-Nya ketika mereka di surga dengan mata kepala mereka masing-masing dengan tanpa adanya keserupaan bagi-Nya, bukan sebagai bentuk yang berukuran, dan tidak ada jarak antara mereka dengan Allah (artinya bahwa Allah ada tanpa tempat, tidak di dalam atau di luar surga, tidak di atas, bawah, belakang, depan, samping kanan ataupun samping kiri)” (Lihat al-Fiqhul Akbar karya Imam Abu Hanifah dengan Syarahnya karya Mulla ‘Ali al-Qari, h. 136-137).
Juga berkata:
قُلْتُ: أرَأيْتَ لَوْ قِيْلَ أيْنَ اللهُ؟ يُقَالُ لَهُ: كَانَ اللهُ تَعَالَى وَلاَ مَكَانَ قَبْلَ أنْ يَخْلُقَ الْخَلْقَ، وَكَانَ اللهُ تَعَالَى وَلَمْ يَكُنْ أيْن وَلاَ خَلْقٌ وَلاَ شَىءٌ، وَهُوَ خَالِقُ كُلّ شَىءٍ.
“Aku katakan: Tahukah engkau jika ada orang berkata: Di manakah Allah? Jawab: Dia Allah ada tanpa permulaan dan tanpa tempat, Dia ada sebelum segala makhluk-Nya ada. Allah ada tanpa permulaan sebelum ada tempat, sebelum ada makhluk dan sebelum segala suatu apapun. Dan Dia adalah Pencipta segala sesuatu” (Lihat al-Fiqhul Absath karya Imam Abu Hanifah dalam kumpulan risalah-risalahnya dengan tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 20).
Juga berkata:
وَنُقِرّ بِأنّ اللهَ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى مِنْ غَيْرِ أنْ يَكُوْنَ لَهُ حَاجَةٌ إليْهِ وَاسْتِقْرَارٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ حَافِظُ العَرْشِ وَغَيْرِ العَرْشِ مِنْ غَبْرِ احْتِيَاجٍ، فَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا لَمَا قَدَرَ عَلَى إيْجَادِ العَالَمِ وَتَدْبِيْرِهِ كَالْمَخْلُوقِيْنَ، وَلَوْ كَانَ مُحْتَاجًا إلَى الجُلُوْسِ وَالقَرَارِ فَقَبْلَ خَلْقِ العَرْشِ أيْنَ كَانَ الله، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا.
“Dan kita mengimani adanya ayat “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa” -sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an- dengan menyakini bahwa Allah tidak membutuhkan kepada ‘‘arsy tersebut da tidak bertempat atau bersemayam di atasnya. Dia Allah yang memelihara ‘‘arsy dan lainnya tanpa membutuhkan kepada itu semua. Karena jika Allah membutuhkan kepada sesuatu maka Allah tidak akan kuasa untuk menciptakan dan mengatur alam ini, dan berarti Dia seperti seluruh makhluk-Nya sendiri. Jika membutuhkan kepada duduk dan bertempat, lantas sebelum menciptakan makhluk-Nya -termasuk ‘arsy- di manakah Dia? Allah maha suci dari itu semua dengan kesucian yang agung” (Lihat al-Washiyyah dalam kumpulan risalah-risalah Imam Abu Hanifah tahqiq Muhammad Zahid al-Kautsari, h. 2. juga dikutip oleh asy-Syekh Mullah ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 70.).
Perkataan Imam Abu Hanifah ini adalah ungkapan yang sangat jelas dalam bantahan terhadap pendapat kaum Musyabbihah dan kaum Mujassimah, termasuk kelompok yang bernama Wahhabiyyah sekarang; mereka yang mengaku sebagai kelompok salafi. Kita katakan kepada mereka: Para ulama salaf telah sepakat mengatakan bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Salah satunya adalah Imam Abu Hanifah yang merupakan salah seorang terkemuka di kalangan mereka. Beliau telah mendapatkan pelajaran dari para ulama tabi’in, dan para ulama tabi’in tersebut telah mengambil pelajaran dari para sahabat Rasulullah.
Adapun ungkapan Imam Abu Hanifah yang menyebutkan bahwa telah menjadi kafir seorang yang berkata “Aku tidak mengetahui Tuhanku, apakah ia di langit atau di bumi!?”, demikian pula beliau mengkafirkan orang yang berkata: “Allah di atas ‘arsy, dan aku tidak tahu arah ‘arsy, apakah ia di langit atau di bumi!?”, hal ini karena kedua ungkapan tersebut menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah. Karena itu Imam Abu Hanifah mengkafirkan orang yang mengatakan demikian. Karena setiap yang membutuhkan kepada tempat dan arah maka berarti ia adalah pastilah sesuatu yanga baharu. Maksud ungkapan Imam Abu Hanifah tersebut bukan seperti yang disalahpahami oleh orang-orang Musyabbihah bahwa Allah berada di atas langit atau di atas ‘arsy. Justru sebaliknya, maksud ungkapan beliau ialah bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah, sebagaimana dalam ungkapan-ungkapan beliau sendiri yang telah kita tulis di atas.
Maksud dua ungkapan Imam Abu Hanifah di atas juga telah dijelaskan oleh Imam al-‘Izz ibn Abdissalam dalam kitabnya Hall ar-Rumuz. Beliau berkata:
“-Imam Abu Hanifah mengkafirkan orang mengatakan dua uangkapan tersebut- Karena dua ungkapan itu memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan siapa yang berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka ia adalah seorang Musyabbih (seorang kafir yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya)” (Dikutip oleh Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqh al Akbar, h. 198).
Pernyataan Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam ini juga dikuatkan oleh as-Syekh Mulla ‘Ali al-Qari. Ia berkata:
“Tanpa diragukan lagi bahwa al-Izz ‘ibn ‘Abdissalam adalah orang yang paling paham terhadap maksud dari perkataan Imam Abu Hanifah tersebut. Karenanya kita wajib membenarkan apa yang telah beliau nyatakan” (Lihat Mulla ‘Ali al-Qari dalam Syarh al-Fiqhul Akbar, h. 198).
2 . Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn Idris as-Syafi’i (w 204 H), perintis madzhab Syafi’i, dalam salah satu kitab karyanya, al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, menuliskan:
(فصل) وَاعْلَمُوْا أنّ اللهَ تَعَالَى لاَ مَكَانَ لَهُ، وَالدّلِيْلُ عَلَيْهِ هُوَ أنّ اللهَ تَعَالَى كَانَ وَلاَ مَكَانَ فَخَلَقَ الْمَكَانَ وَهُوَ عَلَى صِفَةِ الأزَلِيّةِ كَمَا كَانَ قَبْلَ خَلْقِهِ الْمَكَانَ لاَ يَجُوْزُ عَلَيْهِ التَّغَيُّرُ فِي ذَاتِهِِ وَلاَ التَّبَدُّلُ فِي صِفَاتِهِ، وَلأنّ مَنْ لَهُ مَكَانٌ فَلَهُ تَحْتٌ، وَمَنْ لَهُ تَحْتٌ يَكُوْنُ مُتَنَاهِي الذّاتِ مَحْدُوْدًا، وَالْمَحْدُوْدُ مَخْلُوْقٌ، تَعَالَى اللهُ عَنْ ذلِكَ عُلُوّا كَبِيْرًا، ولِهذَا الْمَعْنَى اسْتَحَالَ عَليْه الزّوْجَةُ وَالوَلدُ، لأنّ ذلِك لاَ يَتِمّ إلاّ بالْمُبَاشَرَةِ والاتّصَالِ والانْفِصَال.
“Ketahuilah bahwa Allah tidak bertempat. Argumentasi atas ini ialah bahwa Dia ada tanpa permulaan dan tanpa tempat. Maka setelah menciptakan tempat Dia tetap pada sifat-Nya yang azali sebelum Dia menciptakan tempat; yaitu ada tanpa temapt. Tidak boleh pada hak Allah adanya perubahan, baik perubahan pada Dzat-Nya maupun pad asifat-sifat-Nya. Karena sesuatu yang memiliki tempat maka ia pasti memiliki arah bawah. Dan bila demikian maka ia pasti memiliki bentuk tubuh dan batasan. Dan sesuatu yang memiliki batasan pasti sebagai makhluk, dan Allah maha suci dari pada itu semua. Karena itu mustahil pada haknya terdapat istri dan anak. Sebab hal semacam itu tidak akan terjadi kecuali dengan adanya sentuhan, menempel dan terpisah. Allah mustahil pada-Nya sifat terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Tidak boleh dibayangkan dari Allah adanya sifat menempel dan berpisah. Oleh sebab itu adanya istilah suami, astri dan anak pada hak Allah adalah sesuatu yang mustahil” (Lihat al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Pada bagian lain dalam kitab yang sama dalam pembahasan firman Allah QS. Thaha: 5, al-Imam as-Syafi’i menuliskan sebagai berikut:
فَإنْ قِيْل: أليْسَ قَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى (الرّحْمنُ عَلَى العَرْشِ اسْتَوَى)، يُقَال: إنّ هذِهِ الآيَة مِنَ الْمُتَشَابِهَاتِ، وَالّذِيْ نَخْتَارُ مِنَ الْجَوَابِ عَنْهَا وَعَنْ أمْثَالِهَا لِمَنْ لاَ يُرِيْدُ التّبَحُّر فِي العِلْمِ أنْ يُمِرَّ بِهَا كَمَا جَاءَتْ وَلاَ يَبْحَثُ عَنْهَا وَلاَ يَتَكَلّمُ فيْهَا لأنّهُ لاَ يَأمَنُ مِنَ الوُقُوْعِ فِي وَرَطَةِ التّشْبِيْهِ إذَا لَمْ يَكُنْ رَاسِخًا فِي العِلْمِ، وَيَجِبُ أنْ يَعْتَقِدَ فِي صِفَاتِ البَارِي تَعَالَى مَاذَكَرْنَاهُ، وَأنّهُ لاَ يَحْويْهِ مَكَانٌ وَلاَ يَجْرِي عَليْهِ زَمَانٌ، مُنَزَّهٌ عَنِ الحُدُوْدِ وَالنّهَايَاتِ، مُسْتَغْنٍ عَنِ الْمَكَانِ وَالْجِهَاتِ، وَيَتَخَلَّصُ مِن َالمَهَالِكِ وَالشُّبُهَاتِ.
“Jika dikatakan bukankah Allah telah berfirman: “ar-Rahman ‘Ala al-‘Arsy Istawa”? Jawab: Ayat ini termasuk ayat mutasyabihat. Sikap yang kita pilih tentang hal ini dan ayat-ayat yang semacam dengannya ialah bahwa bagi seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam bidang ini agar supaya mngimaninya dan tidak secara mendetail membahasnya atau membicarakannya. Sebab seorang yang tidak memiliki kompetensi dalam hal ini ia tidak akan aman, ia akan jatuh dalam kesesatan tasybih. Kewajiban atas orang semacam ini, juga seluruh orang Islam, adalah meyakini bahwa Allah -seperti yang telah kita sebutkan di atas-, Dia tidak diliputi oleh tempat, tidak berlaku atas-Nya waktu dan zaman. Dia maha suci dari segala batasan atau bentuk dan segala penghabisan. Dia tidak membutuhkan kepada segala tempat dan arah. Dengan demikian orang ini menjadi selamat danri kehancuran dan kesesatan” (al-Kaukab al-Azhar Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 13).
Gerak dan diam kita, lahir maupun batin, hakikat nya adlh makhluk (ciptaan) juga,
"Wallohu kholaqokum wa maa ta'maluun"
(As-shoffat : 96)
Maka brg siapa yg berkeyaQinan bhw gerak dan diam nya diciptakan oleh dirinya sendiri atau terlepas dari ta'alluq dg sifat Qudrot dan Irodat Nya Allah, maka dia telah syirik (kufur itiqod).
Imam Abu Hanifah ra (#), :
خَلْقُ الْإِسْتِطَاعَةِ فِعْلُ اللهِ وَاسْتِعْمَالُ تِلْكَ الْإِسْتِطَاعَةِ الْمُحْدَثَةِ فِعْلُ الْعَبْدِ حَقِيْـقَةً لَا مَجَـازًا
Menciptakan suatu kemampuan adalah perbuatan Allah swt , dan menggunakan kemampuan tsb adalah perbuatan makhluk yg sesungguhnya.
*****
Imam asy-Syafi’i ra, menyatakan:
فَإِنَّ النَّاسَ لَمْ يَخْلُقُوا أَعْمَالَهُمْ وَهِيَ خَلْقٌ مِنْ خَلْقِ اللهِ تَعَالَى أَفْعَالُ الْعِبَادِ وَإِنَّ الْقَدَرَ خَيْرَهُ وَشَرَّهُ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
Dan sesungguhnya manusia tidaklah menciptakan perbuatan2 mrk sendiri, Perbuatan-perbuatan para hamba adalah salah satu makhluk dari penciptaan Allah. Dan sesungguhnya taqdir baik dan buruknya berasal dari Azza Wa Jalla
Ket : diriwayatkan oleh al-Baihaqy dalam Manaqib asy-Syafi’i (1/405)
*********
Intinya,, kita hanyalah sbg pengguna kemampuan, bukan pencipta kemampuan,
cuman org2 awam merasa seakan-akan kemampuan gerak diam nya itu diciptakan oleh dirinya sendiri.
LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH
Dgn demikian, maka kita harus senantiasa introspeksi diri,, jika melakukan dosa maka secepatnya bertaubat, memohon ampunan, agar diampuni dosa-dosanya dan selamat, dan jika kita berbuat/mengamalkan kebaikan, ketho'atan, hendaknya bersyukur agar ditambah nikmat, dan tdk tergolong org yg kufur nikmat ataupun Musyrik /maksiyat batin.
3 . Al-Imam al-Mujtahid Abu ‘Abdillah Ahmad ibn Hanbal (w 241 H), perintis madzhab Hanbali, juga seorang Imam yang agung ahli tauhid. Beliau mensucikan Allah dari tempat dan arah. Bahkan beliau adalah salah seorang terkemuka dalam akidah tanzih.
“وَأَنْكَرَ عَلَى مَنْ يَقُوْلُ بِالْـجِسْمِ وَقَالَ إِنَّ الْأَسْـمَاءَ مَأْخُوْذَةٌ بِالشَّرِيْعَةِ وَاللُّغَةِ. وَأَهْلُ اللُّغَةُ وَضَعُوْا هَذَا الاِسْمَ عَلَى كُلِّ ذِيْ طَوْلٍ وَعَرْضٍ وَسَـمْكٍ وَتَرْكِيْبٍ وَصُوْرَةٍ وَتَأْلِيْفٍ وَاللهُ تَعَالَى خَارِجٌ عَنْ ذَلِكَ كُلِّهِ فَلَمْ يـَجُزْ أَنْ يُسَمَّى جِسْمًا لِـخُرُوْجِهِ عَنْ مَعْنَى الْـجِسْمِيَّةِ وَلَـمْ يَـجِئْ فِي الشَّرِيْعَةِ ذَلِكَ فَبَطَلَ”.
” Beliau [Imam Ahmad bin Hanbal] mengingkari mereka yang menyifatkan Tuhan dengan kejisiman. Beliau [Imam Ahmad] berkata: Sesungguhnya, nama-nama itu diambil daripada syariat dan bahasa. Adapun ahli bahasa [Arab] meletakkan nama tersebut -jisim- dengan maksud, sesuatu yang ada ukuran ketinggian, ukuran lebar, tersusun dengan beberapa anggota, mempunyai bentuk dan sebagainya, sedangkan Allah di luar daripada yang demikian [tidak mempunyai cantuman, anggota dan sebagainya] Maka, tidak boleh dinamai Allah sebagai Jisim kerana Allah di luar [terkeluar dari] makna kejisiman [tidak beranggota, tiada ukuran, tiada bentuk dan sebagainya] dan syariat tidak pernah menyebut tentang perkara tersebut [penyamaan Dzat Allah dengan jisim] maka batallah [fahaman Tajsim atau Allah berjisim]”. Manaqib al-Imam Ahmad oleh al-Imam al-Baihaqi dan rujuk I`tiqad al-Imam al-Mubajjal Ibn Hanbal, h. 294-295.
Al-Imam al-Mujtahid al-Jalil Abu Abdullah Ahmad Ibn Hanbal radiyallahu`anhu (W. 231 H) juga berkata:
“وَأَمَّا الْإِمَامُ الْـجَلِيْلُ أَبُوْ عَبْدُ اللهِ أَحْـمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ الشَيْبَانـِيْ فَقَدْ ذَكَرَ الشَّيْخُ ابن حَجَرِ الْـهَيْثَمِيْ أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُنَزِّهِيْنَ اللهَ تَعَالَى عَنِ الْـجِهَةِ وَالْـجِسْمِيَّةِ، ثُـمَّ قَالَ ابْنُ حَجَرٍ مَا نَصَّهُ: وَمَا اشْتَهَرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إِلَى هَذَا الْإِمَامِ الأَعْظَمِ مِنْ أَنَّهُ قَائِلٌ بِشَيْءٍ مِنَ الْـجِهَةِ أَوْ نَـحْوِهَا فَكِذْبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِـرَاءٌ عَلَيْهِ”.
“Dan adapun al-Imam Ahmad al-Jalil Abu `Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal Syaibani bahawasanya beliau [Imam Ahmad] dalam kalangan mereka yang mensucikan Allah ta`ala daripada sebarang tempat dan kejisiman. Kemudian, Ibnu Hajar berkata: Adapun yang masyhur dalam kalangan orang-orang jahil yang menisbahkan kepada Imam yang agung ini, bahawa beliau bercakap tentang [Allah ta`ala] bertempat dan sebagainya, maka ia merupakan sesuatu yang dusta, tipu daya dan rekaan ke atas beliau”. (Syaikh al-Islam Ahmad bin Muhammad bin `Ali bin Hajar al-Haithamiy al-Makki al-Misri (t.t), al-Fatawa al-Hadithiyyah, (t.t.p): Dar Ihya’ al-Turath al-`Arabiy, h. 144) .
Al-Imam al-Mujtahid al-Jalil Abu Abdullah Ahmad Ibn Hanbal radiyallahu`anhu (W. 231 H) juga berkata :
“كَانَ يَقُوْلُ- أَيْ الْإِمَامُ أَحْـمَدُ- فِيْ مَعْنَى الاِسْتِوَاءِ هُوَ العَلُوُّ وَالاِرْتِفَاعُ وَلَـمْ يَزَلِ اللهُ عَالِيًا رَفِيْعًا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ عَرْشَهُ فَهُوَ فَوْقَ كُلِّ شَيْءٍ وَالْعَالِيْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ…عَلا وَلَا يَـجُوْزُ أَنْ يُقَالَ اسْتَوَىْ بِـمُمَاسَةٍ وَلا بِـمُلَاقَاةٍ تَعَالَى اللهُ عَنْ ذَلِكَ عُلُوًّا كَبِيْرًا وَاللهُ تَعَالَى لَـمْ يَلْحِقْهُ تَغْيِيْرٌ وَلَا تَبْدِيْلٌ وَلَا تَلْحَقُهُ الْـحُدُوْدُ قَبْلَ خَلْقِ الْعَرْشِ وَلَا بَعْدَ خَلْقِ الْعَرْشِ”.
“Telah berkata –iaitu al-Imam Ahmad- pada menjelaskan tentang makna istawa iaitu ketinggian darjat dan keagungan-Nya. Allah ta`ala sentiasa Maha Tinggi dan Maha Tinggi [darjat-Nya] sebelum Dia menciptakan `Arasy. Dia di atas setiap sesuatu dan Maha Tinggi [kedudukan-Nya] daripada setiap sesuatu… Tidak boleh seseorang berkata bahawasanya, istawa itu zat Allah ta`ala menyentuh `Arasy atau menempatinya. Maha Suci Allah ta`ala daripadanya [bertempat] setinggi-tinggi-Nya. Dia tidak akan berubah-ubah, tidak dibatasi dengan sebarang batasan sebelum penciptaan `Arasy dan setelah kejadian [terciptanya] `Arasy tersebut”. (Abu al-Fadhl al-Tamimi (t.t), Risalah al-Tamimi, (t.tp): (t.p), j. 2, h. 265/290.)
4 . Al-Imam Malik perintis madzhab maliki pernah ditanya tentang makna “Istawa” sepertimana yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Baihaqi di dalam kitabnya al-Asma’ Wa al–Sifat:
“يَا أَبَا عَبْد ِاللهِ: الرَّحْمـَــــٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىْ كَيْفَ اسْتِوَاؤُهُ؟ قَالَ: فَأَطْرَقَ مَالِكٌ وَأَخَذَتْهُ الرَّحْضَاءَ ثُـمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: الرَّحْـمَـٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىْ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ، وَلَا يُقَالُ كَيْفَ وَكَيْفَ عَنْهَ مَرْفُوْعٌ وَأَنْتَ رَجُلٌ سُوْءٌ صَاحِبُ بِدْعَةٍ أَخَرَجُوْهُ. قَالَ فَأَخْرُجَ الرَّجُلَ”.
“Wahai Abu Abdillah: “Al-Rahman beristawa ke atas Arasy”, bagaimana Dia istawa? Maka al-Imam Malik menundukkan kepalanya dan peluh membasahinya, kemudian beliau mengangkat mukanya lalu berkata: “Al-Rahman beristawa ke atas Arasy sepertimana Dia sifatkan diri-Nya dan tidak boleh dikatakan bagaimana [istiwa`-Nya] dan kaif [bagaimana istiwa`-Nya] diangkat daripada-Nya [tidak ada bagi-Nya kaif]. Sesungguhnya engkau ahli bid`ah, usirlah dia. Maka lelaki itupun diusir pergi” . (Al-Imam al-Bayhaqi, al-Asma’ was-Sifat; Bab ma ja’ fi al-`Arsy wa al-Kursi, Dar Al-Jail Beirut, hlm. 568 ).
Dan riwayat yang lain sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Imam al-Baihaqi imam malik berkata :
“الاِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَـجْهُوْلٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَالْإِيْـمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ”.
“Al-Istiwa’ tidak dijahilkan [iaitu diketahui ia daripada al-Quran] dan Kaif [bagaimana istiwa-Nya] tidak diakalkan [iaitu tidak boleh diterima akal] dan beriman dengannya [istiwa` Allah ta`ala ke atas Arasy] wajib dan bertanya tentangnya [bagaimana istiwa-Nya] adalah bid`ah”
PERINGATAN . . . !!!
1. Imam Ibn Hajar al-Haitami berkata :
وَمَا اشْتُهِرَ بَيْنَ جَهَلَةِ الْمَنْسُوْبِيْنَ إلَى هذَا الإمَامِ الأعْظَمِ الْمُجْتَهِدِ مِنْ أنّهُ قَائِلٌ بِشَىءٍ مِنَ الْجِهَةِ أوْ نَحْوِهَا فَكَذِبٌ وَبُهْتَانٌ وَافْتِرَاءٌ عَلَيْهِ.
“Apa yang tersebar di kalangan orang-orang bodoh yang menisbatkan dirinya kepada madzhab Hanbali bahwa beliau telah menetapkan adanya tempat dan arah bagi Allah, maka sungguh hal tersebut adalah merupakan kedustaan dan kebohongan besar atasnya” (Lihat Ibn Hajar al-Haitami dalam al-Fatawa al-Haditsiyyah, h. 144)
2 . Konsensus 4 Madzhab Tentang Kekufuran Orang Yang Menetapkan Tempat Dan Arah Bagi Allah
Asy-Syaikh al-‘Allâmah Syihabuddin Ahmad ibn Muhammad al-Mishri asy-Syafi’i al-Asy’ari (w 974 H) yang lebih dikenal dengan nama Ibn Hajar al-Haitami dalam karyanya berjudul al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah menuliskan sebagai berikut:
“واعلم أن القَرَافي وغيره حكوا عن الشافعي ومالك وأحمد وأبي حنيفة رضي الله عنهم القول بكفر القائلين بالجهة والتجسيم، وهم حقيقون بذلك”
“Ketahuilah bahwa al-Qarafi dan lainnya telah meriwayatkan dari al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Malik, al-Imâm Ahmad dan al-Imâm Abu Hanifah bahwa mereka semua sepakat mengatakan bahwa seorang yang menetapkan arah bagi Allah dan mengatakan bahwa Allah adalah benda maka orang tersebut telah menjadi kafir. Mereka semua (para Imam madzhab) tersebut telah benar-benar menyatakan demikian. ( al-Minhâj al-Qawîm ‘Alâ al-Muqaddimah al-Hadlramiyyah, h. 224)
*********
Dengan penjelasan ini menjadi sangat terang bagi kita bahwa Aqidah yang benar sesuai Aqidah Rasulullah SAW adalah sepertihalnya apa yang disampaikan Asy’ariyah Dan Maturidiyyah “ ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH “ .
وذكر الغز بن عبد السلام : ان عقيدة الاشعري اجمع عليها الشافعية والمالكية والحنفية وفضلاء الحنابلة ووافقه علي ذلك.
Al Ustadz Abdus Syakur dalam kitabnya Al kawakibu Lam’ah Hal 14 mengatakan : Syeikh Izzudin bin abdis salam mengatakan : Bahwasanya Ulama’ Syafi’iyyah, Malikiyyah, Hanafiyyah, Dan para Pembesar ulama’ Hanabilah SEPAKAT / ijma’ atas Aqidah Asy’ariy .
Dan keyakinan Allah berada di langit yang dituduhkan sebagai keyakinan Al-Imam Abu Hanifah adalah kedustaan belaka yang sama seakali tidak benar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Tuduhan semacam ini tidak hanya kedustaan kepada Al-Imam Abu Hanifah semata, tapi juga kedusataan terhadap orang-orang Islam secara keseluruhan dan kedustaan terhadap ajaran-ajaran Islam itu sendiri.
Berikut ini adalah sebagian dalil Al-Qur’an dan Hadits yang menyebabkan Ahlussunnah wal Jamaah (Asy’ariyah-Maturidiyah) berkesimpulan bahwa Allah ada tanpa tempat.
Dalil pertama, sabda Rasulullah ﷺ:
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ
“Allah sudah ada dan tak ada apa pun selain Dia.” (HR. Bukhari)
Hadits shahih ini menegaskan bahwa Allah telah ada sebelum apa pun. Di manakah Allah saat itu? Ini pertanyaan tak relevan sebab semua tempat belum tercipta saat itu. Apakah tidak bisa dikatakan bahwa sebelumnya Allah memang tak bertempat lalu kemudian menciptakan tempat lalu menempati tempat itu? Tentu tidak bisa, sebab kesimpulan seperti ini tak ada dalilnya, baik secara naqli atau aqli. Karenanya, Ahlussunnah meyakini bahwa sejak awal Allah tak bertempat dan selamanya demikian.
Dalil kedua, firman Allah ﷻ:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ
“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Nampak dan Yang Samar.” (QS: Al-Hadid: 3)
Ayat di atas ditafsiri oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai berikut:
اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ
"Ya Allah, Engkau adalah yang awal maka tidak ada sebelum-Mu sesuatu apa pun. dan Engkau adalah yang akhir maka tidak ada setelah-Mu sesuatu apa pun. Dan Engkau adalah Yang Nampak maka tidak ada di atas-Mu sesuatu apa pun dan engkau adalah Yang Tak Tampak maka tidak ada di bawah-Mu sesuatu apa pun.” (HR. Muslim)
Hadits ini dengan amat jelas menyatakan bahwa di atas atau di bawah Allah tak ada apa pun. Berbeda dengan hadits pertama di atas yang bercerita tentang asal mula penciptaan, hadits ini adalah bagian dari doa Nabi ketika hendak tidur. Ini menunjukkan bahwa keberadaan Allah yang ada tanpa bertempat di mana pun tetap berlangsung selamanya, bukan hanya saat awal mula sebelum Allah menciptakan seluruh hal.
Dalil ketiga, Firman Allah ﷻ:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tak ada sesuatu pun yang serupa sedikit pun dengan-Nya.” (QS. As-Syura: 11)
Ayat ini menafikan semua bentuk keserupaan secara mutlak. Seluruh alam materi yang kita kenal seluruhnya bertempat. Bertempat berarti punya dimensi tertentu, massa tertentu, batasan tertentu dan dalam ruang tertentu. Bila Allah tak sama sedikit pun dengan apa pun berarti tak mungkin Allah bertempat sebab yang bertempat pasti menempati ruang. Ruang itu sendiri harus lebih besar, lebih kokoh, dan ada sebelum keberadaan-Nya atau paling tidak, ada bersamaan dengan diri-Nya dan tetap kekal bersama-Nya. Ini tentu bermasalah sebab berarti mengatakan ada dua hal yang qadîm, yakni Allah dan ruang tempat Allah.
Dalil keempat, Firman Allah ﷻ:
اللَّهُ الصَّمَدُ
"Allah yang Maha Dibutuhkan.” (QS. Al-Ikhlas: 2)
فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah Maha-tak butuh pada apa pun selain Diri-Nya.” (QS. Ali Imran: 97)
Kedua ayat tersebut menegaskan bahwa segala sesuatu selain Allah ('alam) membutuhkan Allah yang menciptakan, mendesain, merawat dan menentukan segala sesuatu terkait keberadaannya. Sedangkan Allah sendiri sama sekali tak butuh semua itu. Ruang dan waktu adalah salah satu ciptaan Allah yang didesain serta diatur cara kerjanya sesuai kehendak Allah tanpa sedikit pun Allah berada di dalamnya atau terpengaruh oleh keduanya. Allah telah ada sebelum semua itu ada dan tak berubah setelah semua ada dan terus ada setelah semua binasa.
Bila dipahami bahwa keberadaan Allah haruslah bertempat di suatu ruang, maka itu berarti keberadaan Allah membutuhkan adanya ruang. Kebutuhan Allah akan apa pun adalah mustahil bagi Allah, sesuai dengan ayat di atas.
Dalil kelima adalah segala pengungkapan Allah tentang lokasi diri-Nya yang berbeda-beda, baik dalam Al-Qur’an dan dalam hadits.
Kadang keberadaan Allah diungkapkan seolah di atas langit, kadang seolah di bumi bersama manusia dalam semua aktivitasnya, kadang seolah persis di depan manusia, kadang seolah meliputi kita, kadang seolah dekat sekali bahkan lebih dekat dengan urat leher kita, kadang diungkapkan bahwa posisi terdekat dengan Allah adalah saat sujud, dan banyak ungkapan lainnya. Ini semua kalau dibaca secara objektif hanyalah sekedar ungkapan saja akan eksistensi Allah yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Dekat, Maha Mengetahui dan Maha Mengawasi.
Memaknai semua ungkapan tersebut sebagai lokasi secara fisik merupakan kemustahilan sebab akan terlihat bahwa ayat dan hadits akan saling bertentangan. Sedangkan membagi-bagi sekehendak hati dengan memahami seluruh dalil yang mengungkapkan seolah di atas sebagai lokasi Allah secara fisik sedangkan seluruh dalil yang seolah di bumi sebagai ungkapan kiasan berupa ilmu dan pengawasan, adalah tindakan yang tak ada satu pun dalilnya dari al-Qur'an dan hadits.
Syekh Ibnu Abdil Barr secara objektif berkata:
وَفِيهِ الرَّدُّ عَلَى مَنْ زَعَمَ أَنَّهُ عَلَى الْعَرْشِ بِذَاتِهِ وَمهما تُؤُوِّلَ بِهِ هَذَا جَازَ أَنْ يُتَأَوَّلَ بِهِ ذَاكَ
“Dalam hadits [yang menyebutkan Allah berada di depan orang shalat], ada gugatan bagi orang yang menyangka bahwa Allah ada di atas Arasy dengan Dzat-Nya. Ketika dalil ini [yang mengatakan Allah di depan orang shalat] boleh ditakwil dengan dalil itu [yang mengatakan Allah di atas Arasy], maka demikian juga dalil ini boleh dibuat untuk mentakwil dalil yang itu.” (Ibnu Hajar, Fath al-Bâry, juz I, halaman 508).
Itulah beberapa dalil naqli dari Al-Qur’an hadits yang menjadi bukti bahwa Allah ada tanpa tempat. Adapun pernyataan manusia biasa, siapa pun itu, yang bertentangan dengan dalil di atas, maka dapat dipastikan tidak tepat. Selain dalil-dalil aqli, kesimpulan bahwa Allah tak bertempat juga didukung oleh dalil-dalil rasional yang tak terbantahkan. Wallahu a’lam.